Profil Eksklusif: Mengenal Gusbur, Sosok "Wartawan Legendaris"

 


KUNINGAN Forwades.com – Jika Anda melintas di lobi kantor pemerintahan, mampir ke balai desa, atau sekadar memarkir motor di depan sekolahan, ada satu sosok yang kehadirannya sulit untuk dilewatkan. Bagi komunitas pers di Kabupaten Kuningan, sosok ini adalah ikon. Namanya Agus Salam, namun publik lebih mengenalnya dengan panggilan akrab: Gusbur.

Gusbur bukanlah tipikal jurnalis yang tampil klimis dengan kemeja rapi bin kaku. Ia memiliki karakter visual yang sangat kuat. Postur tubuh yang mungil justru membuatnya lincah bergerak ke sana-kemari. Rambut "brekele" yang menjadi mahkotanya seolah menjadi identitas mutlak yang membuatnya mudah dikenali dari kejauhan.

Bukan hanya soal penampilan, bahasa yang ceplas-ceplos adalah senjatanya. Gusbur bicara apa adanya, tanpa basa-basi yang membosankan. Karakter inilah yang membuatnya bisa masuk ke semua lini

Jejaring Gusbur bisa dibilang luar biasa. Namanya harum (atau setidaknya sangat familiar) di telinga para pejabat teras Kabupaten Kuningan. Namun, ia tidak hanya main di "atas". Gusbur adalah kawan bagi para Kepala Desa dan mitra diskusi bagi para Kepala Sekolah.

Bahkan, seloroh di lapangan mengatakan bahwa Gusbur juga dikenal luas di kalangan para janda. Kemampuannya mencairkan suasana dan membangun komunikasi membuat sosoknya diterima oleh berbagai lapisan masyarakat tanpa sekat formalitas.

Meski beberapa pengamat atau rekan sejawat menilai karya tulisnya masih perlu banyak polesan agar memenuhi standar jurnalistik yang ideal, ada satu hal yang tidak bisa didebat dari seorang Gusbur: Etos Kerja.

Dunia jurnalistik bagi Gusbur adalah pengabdian fisik dan mental. Ia adalah penganut setia prinsip "tiada hari tanpa liputan, serta Singkat padat caiiir adalah moto penyemangat kerja.

Pagi Buta: Sudah terlihat bersiap dengan kendaraannya.ysng di branding Forwades 

Siang Hari: Menembus panas mencari narasumber di pelosok desa.

Malam Hari: Baru kembali ke rumah setelah memastikan "amanat" profesinya tuntas.

"Gusbur itu bukti bahwa semangat seringkali lebih penting daripada sekadar teori. Dia tetap konsisten di jalur ini dari zaman ke zaman," ujar salah satu rekan wartawan di Kuningan.

Di tengah gempuran media digital dan perubahan gaya jurnalisme, Gusbur tetaplah Gusbur. Sosok yang mengajarkan bahwa menjadi wartawan bukan hanya soal merangkai kata-kata indah di balik layar komputer, tapi tentang hadir di tengah masyarakat, membangun relasi, dan terus bergerak meski lelah melanda.

Gusbur adalah warna tersendiri dalam sejarah pers di Kabupaten Kuningan. Tanpanya, dinamika ruang pers di Kota Kuda ini mungkin akan terasa sedikit lebih sepi. 


oleh ; Bule

Previous Post Next Post