LKS Dilarang Tapi Bimbel Jalan Terus: Orang Tua Siswa Keluhkan Standar Ganda Pendidikan

gambar hanya pemanis 


Kuningan Forwades com– Kebijakan pelarangan penggunaan Lembar Kerja Siswa (LKS) di sekolah-sekolah dengan alasan meringankan beban ekonomi orang tua kini menuai kritik tajam. Sejumlah orang tua siswa mulai menyuarakan kegelisahan mereka mengenai ketidakkonsistenan aturan yang ada.

Menurut mereka, pelarangan LKS justru terasa kontradiktif ketika di sisi lain, praktik anjuran untuk mengikuti bimbingan belajar (bimbel) atau les privat luar sekolah tetap marak, bahkan seringkali mendapat "lampu hijau" secara tidak langsung dari pihak sekolah.

Kenapa LKS yang Murah Dilarang?

Salah satu perwakilan orang tua siswa, yang enggan disebutkan namanya, menyatakan bahwa LKS sebenarnya adalah alat bantu belajar yang paling terjangkau.

"LKS itu harganya murah dan sangat membantu anak berlatih soal di rumah. Kalau alasannya beban biaya, kenapa justru itu yang dilarang? Padahal dengan biaya ringan, anak bisa dapat tambahan ilmu dan latihan yang terstruktur," keluhnya.

Bimbel: Beban yang Jauh Lebih Besar

Keresahan utama para orang tua terletak pada biaya bimbel yang bisa mencapai jutaan rupiah per semester. Ironisnya, saran untuk ikut bimbel seringkali datang dari pihak pendidik dengan dalih agar anak lebih pintar atau siap menghadapi ujian.

Biaya LKS: Umumnya berkisar puluhan ribu rupiah per semester.

Biaya Bimbel:Bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah per bulan.

"Kalau LKS dianggap beban, seharusnya bimbel dan les yang biayanya selangit itu juga dievaluasi. Anak-anak yang tidak ikut bimbel seringkali merasa tertinggal, sementara untuk ikut les, kami harus mengeluarkan biaya yang sangat besar," tambahnya.

Harapan Orang Tua

Para orang tua berharap pemerintah dan dinas pendidikan tidak hanya fokus melarang LKS, tetapi juga memperbaiki kualitas pengajaran di kelas agar siswa tidak perlu lagi bergantung pada bimbel mahal. Jika LKS memang dilarang, sekolah harus mampu menyediakan materi latihan yang mumpuni tanpa membedakan anak yang mampu les dan yang tidak. 

" Anak anak kami ingin pintar bukan dengan melalui bimbel tapi dengan sarana  penunjang yang lebih murah  " harapnya.

jumat 30/01/26. ( Bul )

Previous Post Next Post