KUNINGAN — FORWADES
Persoalan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) pada dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Tenjolayar, Kecamatan Pancalang, Kabupaten Kuningan, belum juga menemukan titik terang.
Alih-alih meredakan keresahan dengan membuktikan bahwa sistem pengolahan limbah telah berjalan sebagaimana mestinya, pengelola dapur MBG justru kini menghadapi sorotan baru. Di tengah keluhan mengenai bau menyengat dan dugaan pembuangan limbah ke aliran sungai di sekitar permukiman warga, muncul dugaan adanya upaya membangun narasi tandingan untuk meredam pemberitaan kritis.
Persoalan ini bukan lagi sekadar soal ada atau tidaknya bau.
Lebih jauh, publik kini mempertanyakan bagaimana limbah dari aktivitas dapur yang setiap hari memproduksi makanan dalam jumlah besar itu dikelola, ke mana alirannya, serta apakah sistem IPAL yang tersedia benar-benar berfungsi sebagai fasilitas pengolahan atau hanya sebatas bangunan pelengkap.
Bau Belum Hilang, Narasi Mulai Bermunculan
Informasi yang dihimpun di lapangan menyebutkan, persoalan pengelolaan limbah dapur MBG Tenjolayar mulai menjadi perhatian setelah muncul keluhan mengenai bau tak sedap yang diduga berasal dari aktivitas pengolahan limbah.
Persoalan tersebut kemudian terendus media dan mendapat perhatian aparat terkait hingga dilakukan inspeksi mendadak dari pihak pemerintah kabupaten.
Setelah persoalan itu menjadi konsumsi publik, muncul dugaan adanya langkah untuk membangun pembelaan terhadap kondisi IPAL.
Sejumlah warga disebut-sebut dimintai keterangan atau pernyataan yang pada intinya menyebutkan bahwa kondisi IPAL tidak bermasalah.
Jika benar dilakukan, langkah tersebut justru menimbulkan pertanyaan baru: mengapa energi lebih banyak diarahkan untuk membangun pembenaran, bukan memperlihatkan secara terbuka bagaimana proses pengolahan limbah dilakukan?
Sebab, persoalan lingkungan pada akhirnya bukan perkara siapa yang paling banyak membuat pernyataan, melainkan apakah limbah benar-benar telah diolah dan tidak menimbulkan dampak bagi lingkungan serta warga sekitar.
Konten Positif di Tengah Sorotan
Sorotan juga berkembang setelah muncul konten video di platform YouTube yang menampilkan kondisi dapur MBG dan narasi bahwa persoalan bau limbah yang diberitakan sebelumnya dianggap tidak benar atau hanya isu belaka.
Konten tersebut kemudian menjadi bagian dari polemik.
Di satu sisi, pengelola memiliki hak untuk memberikan klarifikasi dan menyampaikan versinya kepada publik. Namun di sisi lain, klarifikasi idealnya tidak berhenti pada pernyataan verbal.
Publik membutuhkan bukti yang dapat diuji.
Misalnya, bagaimana desain IPAL yang digunakan, bagaimana alur limbah dari dapur menuju instalasi pengolahan, proses apa saja yang dilakukan, ke mana air hasil pengolahan dialirkan, serta apakah kualitas air buangan telah memenuhi ketentuan yang berlaku.
Tanpa penjelasan teknis dan bukti yang transparan, perang narasi hanya akan melahirkan pertanyaan baru.
Muncul Isu “Main Mata” dengan Media
Persoalan semakin menarik perhatian setelah beredar kabar mengenai adanya undangan terhadap sejumlah media lain untuk melakukan peliputan atau pemberitaan yang bernuansa positif terkait operasional dapur MBG Tenjolayar.
Informasi tersebut bahkan berkembang menjadi dugaan adanya upaya “main mata” dengan oknum media untuk membendung pemberitaan kritis.
Namun, dugaan tersebut hingga kini masih membutuhkan pembuktian dan konfirmasi dari pihak-pihak yang disebut.
Karena itu, informasi mengenai adanya upaya “menyiram” atau membayar media tidak semestinya diperlakukan sebagai fakta sebelum terdapat bukti yang dapat diverifikasi.
Meski demikian, munculnya isu tersebut menunjukkan satu hal: polemik IPAL Tenjolayar telah bergeser dari persoalan teknis lingkungan menjadi pertarungan narasi di ruang publik.
Warga Butuh Solusi, Bukan Perang Opini
Seorang sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan menilai, persoalan seharusnya diselesaikan melalui pembenahan teknis.
“Kalau IPAL bermasalah, ya diperbaiki teknis pengolahannya sampai tidak berbau. Jangan malah sibuk membangun opini. Dampak limbah itu nyata dirasakan warga sekitar,” ujar sumber tersebut.
Pernyataan itu menggambarkan keresahan yang kini berkembang di tengah masyarakat.
Sebab, warga tidak membutuhkan klaim bahwa IPAL aman.
Warga membutuhkan kepastian.
Kepastian bahwa limbah dapur tidak mencemari sungai. Kepastian bahwa bau tidak mengganggu lingkungan. Dan yang paling penting, kepastian bahwa program pemerintah yang membawa misi pemenuhan gizi masyarakat tidak justru meninggalkan persoalan lingkungan bagi masyarakat di sekitar dapur produksi.
Saatnya Buka Data dan Buktikan
Polemik ini sebenarnya dapat dihentikan dengan cara sederhana: buka data dan buktikan.
Pengelola dapat menjelaskan sistem IPAL secara terbuka, menunjukkan alur pengolahan limbah, memperlihatkan titik pembuangan akhir, serta memberikan hasil pengujian kualitas air limbah dari laboratorium yang kompeten apabila memang telah dilakukan.
Dengan demikian, masyarakat tidak dipaksa memilih antara dua versi cerita.
Jika IPAL memang berfungsi baik, pembuktian teknis akan menjadi jawaban paling kuat terhadap kritik.
Sebaliknya, apabila ditemukan persoalan, maka pembenahan harus dilakukan tanpa menunggu polemik semakin membesar.
Karena pada akhirnya, isu utama di Tenjolayar bukanlah siapa yang paling kuat membuat narasi.
Bukan pula siapa yang paling banyak diberitakan.
Melainkan satu pertanyaan sederhana:
Apakah limbah dapur MBG benar-benar telah diolah dengan baik sebelum dilepas ke lingkungan?
Pertanyaan itulah yang semestinya dijawab secara terbuka oleh pengelola.
Hingga berita ini diterbitkan, upaya konfirmasi kepada pihak pengelola dapur MBG Tenjolayar terkait dugaan persoalan IPAL, keluhan bau, dugaan aliran limbah, serta kabar mengenai pendekatan kepada sejumlah media masih terus dilakukan.
Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak pengelola maupun pihak lain yang disebut dalam pemberitaan ini.
