Kuningan Forwades.com – Polemik penyegelan menara telekomunikasi (tower) di Desa Sidamulya, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan oleh warga, terus bergulir. Pemilik lahan tempat tower berdiri memberikan klarifikasi terkait status perizinan dan tanggung jawabnya.
" izin Awal Ada: Pembangunan tower sejak awal sudah dilengkapi dengan izin yang diperlukan" ujar Linda pemilik Lahan pada media ini.
Perpanjangan Izin Lingkungan:, Setelah habis masa kontrak, pemilik lahan berpendapat bahwa tidak diperlukan lagi perpanjangan izin lingkungan.
Linda selaku Pemilik lahan menegaskan bahwa ia sudah gugur tanggung jawab karena posisinya hanya sebatas sewa menyewa lahan.
Ia meminta kalau soal perizinan untuk langsung menghubungi dinas atau instansi yang bersangkutan
💰 Isu Uang "Kadehdeu": Ditolak Rp 25 Juta, Diminta Rp 100 Juta
Kasus penyegelan ini juga mencuatkan isu terkait permintaan kompensasi atau "uang kadehdeu" dari warga.
Linda menyoal niat baiknya untuk memberikan uang kadehdeu ( uang kerohiman ,red ) sebesar 25 juta di tolak warga dan meminta 100 apa maksudnya .
" keluarga sudah berniat baik untuk memberi 25 juta rupiah, namun warga menolak bahkan meminta 100 juta, apa maksudnya ? " ujar linda, Kamis 10/12/25 di kantornya.
lebih jauh , linda mengatakan, bahwa dirinya sudah berkomunikasi dengan salah satu advokat , terkait hal ini menurut advokat nya dirinya tidak bersalah karena transaksinya hanya sebatas sewa lahan.
sementara itu , dilain tempat, Wahyu warga desa karoya sangat menyayangkan pernyataan Linda.
" bagaimanapun juga proses perpanjangan ijin lingkungan harus ditempuh sekaligus pemberian kompensasi kepada warga terdampak, toh ia yang untung ( pemilik lahan ) sedangkan warga sekitar yang terdampak, dimana hati nuraninya " ucap wahyu .
Di lain pihak, Jojon warga terdampak menilai, bahwa uang kompensasi 25 juta yang ditawarkan tidak sepadan atau tidak memadai dengan dampak atau manfaat yang seharusnya mereka terima dari keberadaan tower.
bahkan kalau disuruh memilih , antara kompensasi 200 juta atau di tutup, Jojon lebih memilih ditutup.
karena selama ini kami merasa was was ancaman akan keselamatan kami terutama jiwa kami (bul)
bersambung
